Sebuah Cerpen : Payung

Perpustakaan yang sepi, meskipun begitu seorang wanita berparas cantik selalu datang di sore hari dan selalu duduk di meja itu, meja di dekat jendela. dimana hujan bisa dia lihat dan wangi tanah kering yang membasah bisa dia cium.
.
Tak terkecuali sore ini, sebuah buku cerita anak-anak dia baca, sehingga sesekali tawa kecilnya terdengar. tak akan ada yang protes, karena tak pernah ada yang datang ke perpustakaan itu, bahkan sang penjaga perpustakaan entah pergi kemana, dia hanya kembali ketika akan ditutup pukul 20.00
.
Seorang pria menatap dan mendekati wanita itu, bukannya sang wanita tak tahu, tapi ia bukan orang yang mudah diintimidasi.
.
"Aku pikir aku telah melihat seorang bidadari." Itu adalah kata-kata pertama pria itu.
Tanpa memalingkan wajah dari bukunya, wanita itu menjawab dengan tenang, "Kata-kata anda memiliki maksud tersembunyi tuan, apakah itu rayuan atau pujian?"
Sang pria memegang tepian meja sambil tetap menatap lekat, lekat dan lembut dan berkata, "Memangnya kenapa bila itu sebuah rayuan, dan memangnya kenapa pula bila itu sebuah pujian? Bagaimana pula bila itu pujian untuk merayu?"
.
Akhirnya sang wanita menengadahkan wajahnya, membalas pandangan sang pria, mengabaikan degup jantungnya yang bertalu-talu. Wanita itu tersenyum tipis dan berkata, "Tapi aku tidak peduli dengan semua itu. Tidak ada takdir yang bisa kulihat akan menghubungkan kita."
Wanita itu berdiri, berjalan ke arah rak buku yang berjejer-jejer, mencari buku selanjutnya yang akan dia baca, sementara sang pria mendekatinya meskipun menjaga jarak.
.
"Maukah nona, kutawarkan sebuah payung?" kata pria itu langsung. sejenak sang wanita tercekat, namun ketanangan luar biasanya lebih dari apapun juga membuatnya tampak tak terpengaruh.
"Anda melakukan dua kesalahan tuan, pertama anda memanggilku nona, seakan telah mengenal siapa diriku. kedua, anda menawarkan sebuah payung, dimana seorang bidadari telah berdiri dibawahnya. anda ingin aku menemani wanita itu?" wanita itu menatap lekat mata hitam indah sang pria, dimana di sana laksana cermin yang memantulkan seorang wanita yang berlindung di bawah payung. payung sang pria.
.
Pria itu tersenyum dan berkata, "Kalau iya memangnya kenapa? kau menganggapnya kesalahan hanya karena kau memandang dari satu sisi. dan sekalipun aku tidak mengenalmu, bagiku kau adalah nona masa depanku."
.
Wanita itu merasa jengah. Ia melanjutkan pencarian buku tanpa menoleh. Pria itu mendekat hingga berada di hadapan si wanita, namun wanita itu hanya menganggapnya seperti angin lalu.
.
"Kau membutuhkan sebuah payung, hujan bisa datang kapan saja." Kata sang pria dengan tegas. Si wanita menutup bukunya dengan keras, ia mulai merasa kesal, jawabannya singkat : "Aku tahu!!"
.
Sang pria mengeluarkan sebuah payung, entah dari mana, payung itu masih tertutup. Sang wanita terpana dan terkejut, ia berteriak "Simpan kembali!"
Namun sang pria dengan tenang menjawab, "Aku telah memilihmu, Aku akan menyerah jika kau membuang payung itu. Tidak perlu terburu-buru. Aku akan datang, begitu kau membukanya." Pria itu tersenyum tampan dan berbalik akan pergi.
.
"Kau tahu, memang benar jika kau membuka payung itu, aku ingin kau juga menemani wanita yang kau lihat di mataku, tapi apakah kau tahu bahwa pria sebenarnya memiliki lebih dari satu payung? Aku akan pastikan kalian memiliki payung yang berbeda sekalipun bentuknya sama. Aku dan dia itu berbeda, aku dan kamu pun berbeda. Yang sama hanyalah aku." Ucap sang pria lagi.
.
"Tuan, kau mungkin hanya ingin tantangan. Pria, terkadang menyukai tantangan bukan?"
.
Sang pria tersenyum, "Tantangan bukan untuk disukai, tapi dihadapi, dijalani dan dituntaskan." Pria itu pun kemudian benar2 keluar dari perpustakaan.
.
Hari telah malam ketika akhirnya penjaga perpustakaan datang untuk menutup pintu, dia seorang pria tua kurus yang tampak tidak ramah.
Sang wanita melamun sambil memandangi payung itu. Sementara hujan di hadapannya turun dengan deras sejak satu jam yang lalu.
"Jika kau punya payung, kenapa tidak kau gunakan untuk pulang?" Si penjaga menyapa ramah pada sang wanita.
Dengan enggan wanita itu membalas, "ini payung penawaran, belum menjadi milikku. Lagipula aku tetap akan sampai di rumah sekalipun tidak memakai payung."
.
"Ya, tp kau akan basah dan kau tidak tahu kapan hujan akan berhenti."
.
"Pria itu memiliki lebih dari satu payung." Kata sang wanita dengan suara lebih tinggi.
"Kita tahu bersama, bahwa itu bukan kesalahan."
.
Dalam hati sang wanita setuju, "Tapi bagaimana bila payungnya rusak?"
.
"Kau tidak akan tahu sampai kau membukanya, dan berjalan dibawah payung yang sama bersama pria itu di bawah hujan tanpa mencobanya."
.
Sang wanita merasa lelah, ia terlalu banyak berpikir beberapa jam terakhir, ia juga ingin mengatakan banyak hal, namun ketika ia menoleh, si penjaga perpustakaan itu telah menghilang.
.
END
.
NB : Hayoo.. Kira2 ini cerita tentang apa??

2 comments:

Feel Free to Voment :)