Tergantung Siapa Yang Bertahta

Saya punya buku Langit Kresna Hariadi (Gajah Mada buku pertama). Cerita diawali oleh pengkhianatan Ra Kuti yang ingin menggulingkan Prabu Jayanegara dengan ‘rencana’ menguasai istana dan membunuh keluarga kerajaan. Ia menghasut seorang jenderal dengan menjanjikan sebuah jabatan yang tinggi agar bisa menggunakan prajuritnya untuk membumihanguskan istana.

Tentu, Gajah Mada tampil sebagai pahlawan, ia geram sekali dengan tindakan Ra Kuti. Baginya itu adalah ‘makar’, terlepas bagaimanapun Prabu Jayanegara memimpin Majapahit, entah itu arif atau tidak.
.
Di lain kesempatan saya juga membaca sebuah cerita, tentang kehidupan dua suku primitif yang berperang hanya karena perjodohan antar anak kepala suku mereka batal. Pihak suku penyerang melakukan tindakan ‘radikal’ dengan membakar rumah, memenggal kepala dsb. Hal keji yang bisa kita pikirkan lah, tentu dengan senjata yang disesuaikan dengan setting waktu cerita itu terjadi : tombak, panah, racun, pisau, belati dll.
.
Tapi, kalau sekarang saya ingin membuat cerita fiksi dengan plot yang mirip2 seperti itu (pertikaian antar 2 pihak dan perebutan kekuasaan) saya bingung apakah karakter seperti Ra Kuti bisa disebut makar/kudeta lagi. Karena zaman sekarang makar/kudeta itu bukan hanya sebutan untuk perbuatan yang ingin menjatuhkan kekuasaan yang sah dengan paksa. –Arti menurut KBBI-
.
Zaman sekarang, siapapun yang bawa-bawa dalil selain untuk ibadah dan akhlak, bisa disebut makar. Jangankan sekaliber ulama, emak-emak yang ikut-ikutan ulama aja bisa diciduk. Apakah mereka seperti Ra Kuti yang berharap duduk di singgasana Prabu Jayanegara? Apakah mereka seperti Ra Kuti yang sanggup memberikan janji sebuah kekuasaan kepada seorang jenderal dengan kekuatan pasukan pilih tanding ‘segelar sepapan’, sementara yang mereka miliki hanya kecintaan pada Rabb-nya?
.
Pun dengan makna Radikal, bukan lagi bicara tentang kekerasan yang berdarah-darah, bisa jadi itu adalah label bagi orang yang dianggap mengusik setitik kepentingan orang-orang tertentu di negeri. ‘Selama kamu tidak sama dengan saya, kamu Radikal’; begitu kira-kira.
.
Dan masih banyak lagi istilah lain yang bisa jadi sekarang penggunaannya sudah jauh api dari panggang. Sebut saja ‘hoax’, ‘nobel perdamaian Aung San Suu Kyi’, ‘Toleransi’ dan lain sebagainya.

Bikin capek penulis amatir karena harus melakukan riset ribet sebelum menulis bukan? Namun begitulah, mungkin karena masa Prabu Jayanegara udah lewat sejak 689 tahun lalu. Mungkin.
.
Jember, 13 September 17
YHH
.

0 comments:

Feel Free to Voment :)