Bagaimana Bila Tak Ada 'Nanti' ?

Apa yang kamu takutkan? Hantu, film horror? atau mungkin pengkhianatan, sendiri, perceraian, kehilangan?
Well, manusia memiliki ketakutannya sendiri. Kalo saya? Saya takut pada banyak hal : Takut jauh dari anakku, takut tidak bisa menghidupinya, takut 'sendiri', masa tua, waktu yang bergerak cepat, takut kuliah tidak selesai, takut film horror juga, takut pada beberapa orang tertentu. eh kok banyak yaa..
Sebenarnya takut adalah ekpektasi atau antisipasi dari bahaya yang mungkin datang. Hal-hal yang membuat kita takut, karena melihat dan mendengar merupakan sinyal yang dikirimkan ke bagian otak yang bernama thalamus yang diteruskan ke amygdala, dimana amydala akan melepaskan neurotransmitter yang disebut glutamat. Glutamat inilah yang merupakan senyawa di balik rasa takut.
.
Selanjutnya terjadi respon timbal balik dari bagian otak yang bernama periaqueductal gray, biasanya berupa gemetar dan kedinginan. Hipotalamus memberikan respon dengan meningkatkan detak jantung. Respon takut yang sampai ke Adrenalin juga membuat tubuh melepaskan glukosa ke aliran darah, yang membuat orang refleks menutup mata atau bisa berlari lebih cepat dari biasanya.
.
Bisa kita bayangkan respon-respon seperti itu mungkin terjadi kalau kita melihat hal yang seram. Tapi mungkin tidak kalo yang kita takutkan adalah hal yang lain.
.
Misalnya pagi ini, saya ingat ada satu tugas kuliah yang belum selesai, mata kuliah Komunikasi Persuasi. Deadlinenya hari ini, Minggu 01 Oktober 17. Bukannya ga tahu kalo deadlinenya hari ini, tapi emang ga nemu jawabannya dimana, padahal buku udah diubek-ubek, mau nyontek di temen yang udah memberikan jawaban, gengsi amat. Udah besar kok nyontek? Hahaha
.
Sebenarnya tugasnya simple, menjawab dua pertanyaan. Jawaban teman lain yang sudah di upload bisa saya baca, penjelasan mereka sangat panjang X lebar X tinggi bikin saya pusing bacanya. Akhirnya saya biarkan tugas itu terbengkalai selama seminggu. Hingga pagi ini karena kepepet deadline saya membacanya lagi.

Dan mungkin karena kepepet juga, baru saya "Ngeh" bahwa tugas kali ini sebenarnya bukan bikin essai kaya biasanya. cuma disuruh nyebutin loh. Benerkan??
Dan dalam hitungan menit, tugasku selesai!
.
Sebelum pagi ini, saya udah takut aja bahwa tugas ini ga bisa selesai, gengsi dong, tiap minggu ngerjain tugas dan diskusi, terus minggu ini mau absen gegara bingung cari jawaban? Ga lah..
.
Tapi ketakutanku rasanya ga sampai merangsang adrenalin, karena meskipun namanya juga takut, ga sampe merasa gemetar atau kedinginan, atau detak jantung yang berdegup cepat, sampe pengin lari atau refleks menutup mata.
.
Sebenarnya, dalam kehidupan pun kita sering begitu. Sering dikuasai rasa takut yang sebenarnya masih perlu pembuktian. Yang jomblo takut menikah karena melihat contoh pernikahan yang buruk, padahal dia sendirinya belum menikah, belum tahu rasanya dan belum tentu sama akhirnya dengan contoh-contoh buruk yang beritanya sering dia makan. Eheemm..
.
Ada juga yang takut, ketika masuk ke lingkungan baru apakah dia bisa diterima apa tidak? Apakah bisa beradaptasi atau tidak? Apakah akan disukai atau tidak? Apakah bisa bla bla bla?
Ada kan yang kaya gitu? Iya saya salah satunya. hihi
.
Tapi seberapapun ketakutan kita, yang tidak pernah berubah adalah bahwa kita harus menghadapinya. Terkadang kita membuat kesalahan ketika memberikan reaksinya, tapi kita selalu diberi kesalahan untuk belajar, dan selalu ada kesempatan untuk memperbaiki.
.
Tapi, bukan berarti karena selalu ada harapan setelah kekacauan, maka kita meremehkan proses-proses kehidupan kita, karena tetap saja segala kesempatan itu datangnya dari Allah SWT, tentu bila Dia berkehendak. Karena keyakinan kita bahwa Dia adalah Dzat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, kita selalu mengatakan nanti-nanti untuk berubah atau bergerak. Padahal "nanti" bukanlah jaminan kita.
.
Bagaimana bila tak ada 'nanti'???
.
Jember, 01 Oktober 17
YHH
.

4 comments:

  1. Saya banget nih. Sering dilanda ketakutan-ketakutan. Takut mati, bukan takut untuk meninggalkan dunia tapi takut karena bekal buat kehidupan akhir berasa kurang sekali :-(

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak sebenarnya yang kita takutkanya setelah kematian itu yaa..

      Delete
  2. nice sharing :) Aku agak mumet baca istilah2 ilmiah hormon2, wkwkwk. tapi, manusia punya ras atakut wajar banget, karena dilengkapi dgn aneka 'rasa'. Nah, tinggal kita mikir gmn caranya mengelola ketakutan itu supaya bs terkendali, mungkin gitu ya :)

    ReplyDelete

Feel Free to Voment :)