Menulis adalah Seni Menyampaikan Kebenaran

Menulis adalah Seni Menyampaikan Kebenaran


Dahulu kala ketika masih jaman SD, seragam merah putih, dikelas kami di dinding belakang terpajang peta Indonesia dalam ukuran besar. Hampir memenuhi dinding. Sehingga nama kota-kota besar bisa dibaca dengan jelas.
..
Saya dan seorang sahabat, yang mungkin telah melupakan dan terlupakan suka ‘menjelajah’ di peta tersebut. Bukan menunjukkan kelak ketika dewasa akan kemana. Tapi mengarang sebuah cerita fiksi tentang asal-usul nama sebuah kota. Cerita karangan itu kami tulis di sebuah buku untuk saling ditukarkan dan dibaca oleh masing-masing.
..
Pada masa itu pula, lagi ‘ngetrend-ngetrend’nya novel Harry Potter (awal). Sehingga sukses lah kami kepentok dan ketagihan pada cerita fiksi. Bila bosan menulis cerita fiksi tentang nama kota di Indonesia, kami akan membuat cerita fiksi semacam Harry Potter.
..
Belasan tahun berlalu, kami terpisah dan berubah. Saya tidak pernah menulis lagi sejak lulus SD, kecuali kalau ada tugas bahasa Indonesia saja, yang tidak berubah adalah saya masih bisa membaca cepat.
..
Tidak adanya teman atau dukungan untuk menulis menjadi salah satu alasan saya tidak menulis lagi. Sehingga prioritas pun berubah, yang penting selalu juara 1 setiap kali raport-an.
..
Semakin banyaknya waktu berlalu, dan semakin bertambah dewasa, ternyata masalah sering datang silih berganti seakan antriannya tak pernah habis-habis. Rasanya seperti di rundung kemalangan bertubi-tubi. Saya menjadi takut pada banyak hal.
..
Hingga akhirnya saya menyadari bahwa saya takut karena saya tidak tahu apakah salah atau benar. Saya takut bila salah, bilapun benar saya takut orang lain akan berpikir saya salah karena standart orang bisa saja berbeda-beda. Semakin banyak buku yang saya baca, semakin saya menyadari manusia suka menentukan segala sesuatu berdasarkan asumsinya sendiri, yang terkadang akan dia ubah sendiri sesuai dengan situasi dan kondisi.
..
Umar Bin Khattab pernah berkata, “Menulis menjadikanmu berani.”
..
Menjadi pribadi yang penakut itu tidak menyenangkan. Selalu diliputi oleh kegelisahan. Itu karena kita tidak tahu harus berpegang pada standart apa. Standart kebenaran bagi seorang muslim hanya satu : Islam. Bagi penulis, setiap goresan pena-nya akan dimintai pertanggungjawaban.
..
Maka menulis adalah salah satu cara untuk mendapatkan keberanian itu kembali. Yang juga hanya akan didapatkan (keberanian tersebut) bila yang ditulis adalah kebenaran. Ya, menulis adalah seni menyampaikan kebenaran. Haram menulis yang tidak sesuai fakta, memutar balikkan ayat, mengandung konten porno, ajaran sesat dll.
..
Menulis itu setengah mudah dan setengan sulit. Bagi saya yang suka menulis, saya selalu merasa memiliki ide di kepala sebagai bahan tulisan. Namun tidak tahu bagaimana memulainya. Tidak ada pena yang segera diambil untuk menulis, atau tidak bergerak cepat membuka laptop untuk mengetik. Ternyata ketika kita memulainya, kata-kata akan mengalir dengan sendirinya. Hingga terkadang tidak tahu bagaimana mengakhirinya. Intinya, segeralah tulis sebuah kata sebagai permulaan, lalu lihatlah apa yang akan terjadi J
..
Penting juga berkomitmen kepada diri sendiri, dengan menentukan jadwal menulis rutin. Bukan waktu sisa. Bukan kalau ada waktu. Ini ditentukan oleh pribadi masing-masing, disesuaikan dengan tugas negara masing-masing. Kalau saya menulis dari jam 17.00-19.00. sebenarnya kurang, karena terkadang tidak cukup membuat 1 artikel, apalagi kalau lagi dikejar deadline. Biasanya kalau diperlukan saya akan memulai menulis lagi pada keesokan paginya jam 03.00-05.00.
..
Seorang penulis juga harus istiqomah menuntut ilmu, karena syarat diterimanya amal selain niatnya yang benar, caranya juga harus benar. Menentukan suatu cara benar atau tidak tidak bisa dengan menentukan sendiri sekehendak hati. Setiap muslim terikat pada hukum syara’ yang hanya bisa diketahui dengan menimba ilmu agama.
..
Penulis yang baik hanya menulis ide-ide yang mencerdaskan, menggugah, menginspirasi, dan menanamkan pemahaman yang shohih. Dan semoga saya termasuk salah-satunya.
..
Jember, 15 November 2017

Helmiyatul Hidayati

0 comments:

Feel Free to Voment :)